Selintas Tentang Penggagas

penggagas

I Gede Yudi Gautama adalah pimpinan dari Sanggar  Tri Bhuana Giri, salah satu  sekaa Gong Kebyar yang  cukup mantap di Bali Utara. Kelompok ini didirikan oleh Yudi Gautama pada tahun  1994, dengan tujuan untuk melestarikan, memberdayakan dan  menunjukkan kepada khalayak gaya musik dan tari  Buleleng  sebagai tempat kelahiran gong kebyar.  Tahun 2007 lalu dia  mendampingi  kelompoknya untuk tampil pada Festival Gamelan Intenasional Pertama di Amsterdam  (IGFA).

Hedi Hinzler adalah seorang ahli di bidang Arkeologi serta  di bidang Sejarah dan Seni Kuno di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara. Sejak tahun 1972, ia melakukan kerja lapangan di Asia Tenggara serta mengunjungi Bali dan Jawa setiap tahun. Di Bali, ia terlibat dalam suatu lembaga yang menangani Proyek Manuskrip Bali. Sebagai seorang Guru Besar  di Universitas Leiden Prof Hinzler mengajar Seni Pertunjukan dan  Seni Kontemporer di Asia tenggara khususnya Bali. Sebagai seorang dalang wayang Bali, Hedi Hinzler  sangat tertarik pada seni pertunjukan Bali dan telah mensponsori,  ataupun berinisiatif  bersama atau juga  berpartisipasi dalam  berbagai pengembangan musik dan tari Bali di Belanda.

Henrice Vonck, seorang musisi, pengajar serta seorang yang ahli di bidang Ethnomusikologi, yang meraih gelar doktor  dengan disertasi mengenai Gender Wayang di Tejakula, Buleleng berjudul Manis dan Keras. Ia  merupakan salah seorang dari sedikit peneliti musikologi Bali Utara,  Ia mengajar di Codarts, Universitas Kesenian di  Rotterdam, Belanda. Sejak 1987 ia menjadi pimpinan dari kelompok kesenian gamelan Bali bernama Irama  yang  bermarkas di Amsterdam, yang memiliki sejarah yang cukup panjang dalam hal  penyelenggaraan proyek musik dan produksi theatre bekerjasama dengan seniman-seniman Bali di Belanda. Ia menjadi Koordinator penyelenggaraan Festival gamelan Internasional I di Amsterdam (IGFA) . yang berlangsung Juni 2007 di the Royal Tropical Institute (KIT), Amsterdam, belanda. Sekarang in dia juga ditunjuk sebagai Direktur Program untuk  IGFA 2010, dan sedang mempersiapkan sebuah produksi theatre baru dari Irama bekerjasama dengan  seniman Bali kenamaan I Made Wianta dan I Made Arnawa.

I Gede Sanat Kumara setelah lulus dari Goethe Institute di Nuremberg, Germany, pada tahun 1981, dan kemudian melanjutkan pendidikan Graphic Art and Marketing Design di Sydney College, Australia pada tahun 1984. Sepulang ke Bali, beliau bekerja di sebuah hotel dan biro perjalanan dimana beliau mendapat pengalaman. Dari tahun 1997 beliau bersama team ahli teknologi internet dan desain grafis membangun ABL sebagai pemimpin lokal di bidang e-travel dan reservasi hotel  online, yang mana beliau adalah pendiri dan presiden.

I Gusti Bagus Sudhyatmaka Sugriwa adalah seorang karyawan  Radio Republik Indonesia, bertugas selama 32 tahun dari seorang  penyiar dan wartawan, dari seorang reporter radio sampai menjadi Kepala  RRI Stasiun Denpasar, Bali saat ini. Sebagai seorang wartawan  ia juga pernah menjadi koresponden harian the Indonesia Times  dan the Jakarta Post.
Ia juga menulis dan menyunting  berbagai buku yang diterbitkan oleh pemerintah , termasuk Pesta Kesenian Bali  (1991), Rahasia Pembangunan Balii, Taksu “Never Ending Art Creativity” (1998) dan juga Bom Bali ( Edisi Bahasa Indonesia dan Inggris, 2004), disamping menulis dan menyunting berbagai buku dengan berbagai topik  termasuk mengenai pura-pura dan  kesejahteraan sosial.
Atas pengetahuannya di bidang seni dan budaya itu, ia ditunjuk menjadi juri / konultan untuk berbagai lomba pada Pesta Kesenian Bali. Termasuk sebagai juri  Parade Gong Kebyar yang demikian bergengsi dan sangat populer di kalangan masyarakat BaIi  dari tahun 1995 sampai dengan 2006. Sejak tahun 2007 sampai tahun 2009 ini, dia ditunjuk oleh Pemerintah Daerah Bali sebagai  Wakil Ketua  dari  Tim Pengawas Pesta Kesenian Bali yang beranggotakan 7 orang.
Sekarang ini dia masih  memegang jabatan sebagai Ketua Umum Majelis Pertimbangan dan Pembinaan Kebudayaan - Listibiya Kabupaten Buleleng , di samping sebagai Koordinator Seksi Sastra pada Listibiya Propinsi Bali. Ia juga menjadi Ketua Umum Yayasan Sabha Budaya Hindu Bali, Denpasar, Bali, dan Ketua Umum Yayasan Pelestarian Warisan Budaya Bali Utara, Singaraja, Bali. Pada 2007 ia memimpin Misi Kesenian Bali Utara ke Festival Gamlean Intenasional Pertama di Amsterdam .

I Wayan Dibia adalah salah satu seniman dan guru besar  yang cukup terpandang dan popular di BaIi yang menguasai  seni tari, koreografi, teater musik dan seorang pengajar di perguruan tinggi. Dia adalah  seorang dosen senior  dan mantan Pimpinan ISI Denpasar, Bali serta pendiri dan pimpinan Yayasan  GEOKS sebuah lembaga dengan kegiatan pelestarian musik dan tari di Bali  yang dikhususkan pada seni pertunjukan kontemporer. Dalam  berkesenian sebagai tradisi, ia mengkhususkan diri pada tari topeng, barong dan  kecak. Pria yang lulus Doktor di bidang  Interdisciplinary Studies di UCLA, USA, telah mengadakan petrtunjukan dan mengajar di lebih dari 20 negara, Ia menjadi kurator pada Festival Pertama Gamelan Internasional di Amsterdam (IGFA), Belanda  yang berlangsung pada Juni 2007 untuk mana ia mengundang kelompok Gong Kebyar  Tri Bhuana Giri dari desa Banyuatis, Buleleng. Saat ini dia bertugas untuk  the South Bank gamelan di  London.

Éric Vandal tertarik  dengan musik Bali saat dia belajar mengenai komposisi di  Universitas Montreal - Université de Montréal (UdeM), Kanada. Pada tahun 1998 ia bergabung dalam kelompok  Giri Kedaton, kelompok gamelan gong kebyar milik universitas itu, dan kemudian memimpin  kelompok itu sejak tahun 2006. Pada tahun-tahun terakhir ini ia  lebih sering  mengunjungi Bali ( terimakasih atas  bantuan grant dari  Conseil des Arts et des Lettres du Québec) untuk mempelajari seni gong kebyar Bali Utara  dibantu oleh  I Made Terip dan I Putu Putrawan dari desa Munduk, Buleleng. Pada tahun 2007 dia mendapatkan  dana beasiswa dalam bentuk grant  dari the Social Sciences and Humanities Research Council of Canada (SSHRC) - Dewan Pengkajian  Ilmu-ilmu Sosial dan Kemanusiaan Kanada. Sekarang dia mengajar gamelan Bali di  UdeM seraya menamatkan masternya di bidang Ethnomusikologi dengan memfokuskan pada musik gong kebyar Bali Utara.