Abstrak

Kebudayaan Bali Utara dalam Pembangunan Kepariwisataan Bali
I Gede Ardika

Makalah ini membahas tata hubungan yang resiprokal antara kebudayaan dan kepariwisataan. Selama ini masih terlalu banyak konsep berpikir yang menempatkan kebudayaan (kesenian) hanya sebagai alat (objek) untuk mengembangkan kepariwisataan. Cara pandang seperti itu lebih menempatkan bentuk hubungan satu arah kepariwisataan dengan kebudayaan. Sehingga kepariwisataan dianggap hanya memanfaatkan kebudayaan semata tanpa memberikan kontribusi apapun terhadap kebudayaan itu sendiri. Bahkan memanfaatkan itu lebih dimaknai sebagai sesuatu kegiatan yang hanya mempunyai makna negatif.

Yang kurang mendapat perhatian adalah bahwa kebudayaan itu menjadi landasan pengembangan kepariwisataan, yang memberikan rambu dan arah atas jenis kepariwisataan yang seperti apa yang dapat dikembangkan. Justru dengan membangun kepariwisataan yang berlandaskan pada budaya, maka kepariwisataan akan menjadi wahana untuk melestarikan kebudayaan itu sendiri. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa kepariwisataan adalah pengguna kebudayaan dan juga pelestari kebudayaan itu sendiri. Pelestarian dimaknai sebagai upaya untuk memelihara, menggunakan atau memanfaatkan dan mengembangkan kebudayaan dalam arti luas, yang mencakup bentuk dan unsur-unsur kebudayaan. Pengembangan kepariwisataan dan kebudayaan juga dalam makna untuk melihat arah pengembangan jauh ke depan sebagai suatu visi. Dengan cara berpikir seperti itulah diletakkan tata hubungan Kebudayaan Bali Utara dalam Pembangunan Kepariwisataan Bali dan akan turut membantu memetakan arah pembangunan Kebudayaan Bali Utara.

Potensi seni rupa Bali Utara
I Nyoman Suma Argawa

Sebagai daerah yang memiliki wilayah terluas di Pulau Dewata yang merupakan Daerah NYEGARA GUNUNG yang memiliki identitas Potensi Seni Budaya tersendiri dibelahan utara Pulau Bali yakni Bali Utara ( Den Bukit ). Seni Rupa sebagai sebuah identitas yang lentur dan terbuka, memiliki sifat dasarnya yang makin hari tak terbendung menerima pluralitas nilai-nilai, begitu juga kekhasan potensi seni budaya Bali Utara biasanya tercermin dalam karakteristiknya, memiliki ciri-ciri khusus atau sifat- sifat khas sesuai dengan perwatakan yang mereka miliki. Karakteristik yang ditampilkan atau divisualisasikan oleh mereka tidak boleh lepas dari kebudayaan yang mereka milikinya, dalam kenyataan hidup berwujud dunia ide, gagasan atau pengetahuan yang ada pada setiap prilaku maupun hasil prilaku mereka dalam kehidupan masyarakat, baik dalam bentuk tindakan maupun beranekan bentuk yang diciptakan sesuai pengalaman sehingga sebagai dasar untuk mengilhami imajinasinya.

Maka, untuk mengetahui potensi seni rupa Buleleng kita hendaknya memahami karakteristik soisiokultural Bali Utara. Ungkapan ini dapat berfungsi sebagai cermin upaya melestarikan seni rupa Bali Utara kearah suatu tatanan sosial yang diidealkan dalam bentuk potensi seni rupa Buleleng yakni masyarakat seniman, budayawan, pemerhati dan apresiasinya yang tinggi untuk menjungjung tinggi ideologi TRI HITA KARANA dan memvisualisasikan pemahaman  FILSAFAT RWA BHINEDA.

Pura Kerta Negara Gambur Anglayang di desa Kubutambahan, Buleleng, Bali
(Perspektif multikulalisme dan mistisisme)
Nengah Bawa Atmadja

Pura Kerta Negara Gambur Anglayang terletak di Desa Pakraman Kubutambahan, Buleleng Bali. Pura ini memiliki keunikan antara pada pelinggih yang ada di jeroan-nya memiliki nama-nama khas, yakni Pelinggih Ratu Gede Dalem Mekah, Pelinggih Ratu Agung Melayu, Pelinggih Ratu Bagus Sundawan, dan Pelinggih Ratu Agung Syahbandar. Berdasarkan sejarah lisan pelinggih-pelinggih ini dikaitkan dengan orang Islam, Melayu, Sunda, dan Cina. Mereka datang ke tempat ini, dengan tujuan berdagang. Sebab, lokalitas di mana pura ini berada, dahulunya konon merupakan pelabuhan bernama Kota Banding atau Tebanding. Kota ini merupakan bagian dari kekuasaan lokal berpusat di Desa Pakraman Bulian. Bandar ini ramai dikunjungi oleh pedagang lokal Bali, pedagang dari luar Bali, bahkan ada pula pedagang Cina. Kawasan ini bisa berkembang menjadi bandar, karena letaknya sangat strategis, yakni pada jalur perdagangan antara Malaka, pantai Utara Jawa, pantai Utara Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Maluku - pusat rempah-rempah. Pelabuhan Tebanding menyediakan pula komoditas, yakni beras, kain, garam, dll. Pda kawasan pura ini terdapat pula air tawar guna memenuhi kebutuhan para pedagang akan air minum selama berlayar di lautan. Pelabuhan Tebanding berkembang menjadi kota dagang mungkin sekitar abad XVI-XVII.

Masyarakat setempat mendapatkan manfaat ekonomis dari kedatangan para pedagang tersebut. Mereka yakin kedatangan mereka karena terdorong oleh kekuatan supernatural. Berkenaan dengan itu mereka pun mendirikan pelinggih untuk mengingatkan pada rejeki atau kesejahteraan yang diberikan oleh pedagang Islam, Melayu, Sunda, dan Cina. Kemanfaatan yang didapat, mengakibatkan, walaupun para pedagang tersebut berbeda dilihat dari segi etnisitas dan atau agama, namun mereka diterima secara terbuka oleh masyarakat setempat. Gejala ini bisa dimaknai, bahwa masyarakat setempat telah mengenal apa yang disebut multikulturalisme. Artinya, mereka memperlakukan orang yang berbeda secara etnisitas dan atau agama dengan sasaran membawa masyarakat ke dalam suasana rukun, damai, egaliter, toleran, saling menghargai, saling menghormati, tanpa ada konflik dan kekerasan, tanpa mesti menghilangkan perbedaan yang ada.

Khusus dalam kaitannya dengan Pelinggih Ratu Gede Dalem Mekah, mengingatkan pada pedagang Islam. Namun label Mekah tidak mesti berarti terkait dengan kota suci Mekah di Saudi Arabia, melainkan bisa pula berkaitan dengan ibukota kerajaan Demak. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari sistem kesepadanan yang umum diberlakukan pada kerajaan-kerajaan di Jawa - Hindu maupun Islam. Sistem ini menggariskan, bahwa ibukota kerajaan adalah pusat peradaban yang berkesepadanan dengan pusat peradaban lain Islam lebih tinggi, yakni kota Mekah. Mekah sebagai pusat peradaban Islam ditandai oleh adanya Ka’bah lengkap dengan masjidnya, yakni Masjid Al-Haram. Pola ini dipesepadankan dengan kota Demak, tercermin pada Masjid Demak. Bersamaan dengan itu maka tidak menutup kemungkinan kota Demak pun diberikan pula nama kota Mekah. Pedagang yang berasal dari kota Demak secara otomatis menyubutkan pula dirinya orang Mekah. Pada Pura Kerta Negara Gambur Anglayang, mereka membuat dan atau membenarkan tindakan masyarakat setempat, yakni mendirikan Pelinggih Ratu Gede Dalem Mekah. Kondisi ini bisa jadi ada kaitannya dengan varian Agama Islam yang dianut oleh pedagang Demak, yakni mistisisme atau tasawuf yang lebih khusus, yakni tasawuf Syekh Siti Jenar yang disebut wahdatul wujud (Manunggaling Kawula lan Gunsti). Mistisisme seperti ini sangat kental terkena pengaruh Agama Hindu yang bersumberkan pada kitab Upanisad. Kaum mistiskus berpandangan, bahwa agama adalah jalan yang berbeda, dengan tujuan yang sama, yakni mendekatkan dan atau memanunggalkan manusia dengan Tuhan. Inti agama adalah cinta dan kasih sayang antarsesama manusia. Hubungan antarmanusia pun harus dijiwai oleh cinta dan kasih saying, sebagaimana Tuhan mangasihi dan menyintai makhluk ciptaan-Nya. Begitu pula di mana pun manusia berada, dia bisa melakukan hubungan dengan Tuhan. Apa pun nama suatu tempat suci, tidak masalah, sebab secara hakiki tempat suci adalah sama, yakni  media untuk berhubungan/memanunggalkan diri dengan Tuhan. Gagasan inilah yang menyebabkan orang Islam Demak sebagai penganut mistisims atau tasawuf, tidak berkeberatan menggunakan Pelinggih Ratu Gede Dalem Mekah sebagai media untuk berhubungan dengan dengan Tuhan lewat sembahyang maupun perilaku ritual lainnya.

Dokumentasi Foto Historis Bali Utara
Maurizio Rosenberg Colorni

Maurizio Rosenberg Colorni adalah seorang antropolog, jurnalis dan fotografer. Dalam kurun waktu 35 tahun  terakhir dia telah menulis banyak buku yang diterbitkan di Italia dan Prancis. Dalam pidato ilustrasinya dia akan mengetengahkan fotografi sebagai media untuk mendokumentasikan sejarah selama 150 tahun terakhir. Fotografi memberikan jalan bagi kita untuk memahami kehidupan sehari-hari masyarakat dalam strata sosial yang berbeda-beda, menghasilkan sebuah “antropologi visual” suatu masyarakat. Buleleng memiliki dokumentasi foto masa lalu yang kaya, yang kini hilang atau tersebar kemana-mana. Tantangannya adalah untuk mengumpulkan kembali foto-foto tersebut dan menyediakannya untuk para peneliti di bidang arsitektur, seni pertunjukkan (musik, tari dan teater), kerajinan tangan dan lukisan, tak lupa pula untuk kepentingan umum.

Legong Keraton dan Kebyar Legong di Bali Utara
A. A. Bulantrisna Djelantik

Tarian Legong Keraton yang telah berusia sekitar 200 tahun dan berasal dari daerah Sukawati di Bali Selatan,  berkembang pesat sehingga menyebar ke seluruh Pulau Bali.  Catatan tertua  mengenai keberadaannya di Bali Utara adalah Legong di Menjali.  Agaknya beberapa guru tari telah mengajarkan tarian Legong Keraton di Bali Utara. Almarhum Gusti Biang Sengog, dam almarhum Ida Bagus Raka dari Bongkasa, konon sering dijemput untuk mengajar ke Bali Utara.  Sang Ayu Muklen , seorang guru tari Legong dari Pejeng, ingat bahwa ia sering menari Legong berkeliling (ngelawang) di desa-desa sepanjang pantai Bali Utara. Tidak banyak informasi yang dapat diperoleh mengenai Legong Tombol , sebuah nama Legong dari jaman dulu. Agaknya  Legong Keraton akhirnya punah, tak ada sisa tarian Legong yang masih dipentaskan secara aktif di Bali Utara, baik di Menjali, maupun di istana (Puri) dan desa-desa.

Perkembangan Gong Kebyar yang penuh ekspresi pada awal abad ke-20, selalu dianggap sebagai kekhasan  yang menunjukkan sifat “pemberontak”  warga Bali Utara.  Kreasi Kebyar Legong yang menakjubkan oleh  Pan Wandres di  Bengkala dan Jagaraga pada th 1915, menggunakan baju berlengan panjang dan kostum kulit prada bagian atas (simping) seperti Legong, tanpa ada kesamaan lainnya, mungkin merupakan salah satu bentuk “pemberontakan” terhadap kemapanan Legong di Selatan.  Pada awalnya, penarinya semuanya pria, salah satunya adalah Gede Manik.  Gerakannya sangat energik , emosional dengan perubahan gerakan mendadak dan pergeseran yang cepat, yang memadukan tarian pria dan wanita yang sepenuhnya larut dalam gamelan Gong Kebyar.  Pada bagian awalnya, seluruh tarian dalam keadaan duduk dan disebut Legong Negak atau Kebyar Negak. Tak lama kemudian, tarian ini juga dibawakan oleh wanita, beberapa diantaranya yang dulu terkenal  adalah Ni Kasning dan Ni Manik dari Sawan,  Made Rangki  dan  Nyoman Paica dari Jagaraga.  Setelah  Pan Wandres meninggal, Gede Manik mulai mengajar tari dan menciptakan  tari  Palawakia dan Tarunajaya, dengan mengambil bagian dari tarian Kebyar Legong pada tahun 1940.  Palawakia , yang memadukan tari, vokal puitis dan permainan alat Trompong, sempat  punah dan tak dipentaskan untuk waktu lama, hingga salah seorang murid Gede Manik, Luh Menek yang tinggal di Tejakula, diminta mengingatnya kembali pada awal tahun 70-an.  Walaupun  Tarunajaya dan Palawakia menjadi tarian kebanggaan Bali Utara, di Bali Selatan kawan dekat Gede Manik yaitu Gede Beratha dari Belaluan Denpasar, mengajarkan versinya, begitu pula Wayan Gandra dari Peliatan Ubud.   Liliek Jayaningsih dari  Denpasar, adalah salah satu murid terbaik  Gede Beratha, sedangkan Desak Nyoman Suarti dari  Pengosekan Ubud, penari terbaik almarhum Gandra .

Pemerintah pernah menyelenggarakan  kontes tarian Tarunajaya di  Buleleng pada tahun  1985, Festival Palawakia di Buleleng pada tahun2002 serta pada PKB Bali tahun 2007. Yang menarik adalah bahwa pada yang terakhir, seorang penari dari Kabupaten Karangasem yang menjadi juara pertama.   Hingga kini, tarian-tarian ini terus menyebar ke seluruh Bali.  Walaupun demikian, masih tetap dianggap lebih “asli” bila Tarunajaya ditarikan oleh penari Bali Utara.  Karena itulah, berbagai Sanggar Tari dan Sekeha  yang bermunculan di Bali Utara, seharusnya  tetap menjaga tarian ini sebagai warisan budaya dan bentuk kesenian yang tetap hidup di Bali Utara.

Media massa: “Carrier, content provider and trend setter” budaya
Parni Hadi

1. Kebudayaan adalah hasil cipta, karsa dan karya manusia untuk mempertahankan, mengembangkan dan mencapai tujuan hidup manusia. Berdasarakan pengalaman empiris, hasil cipta, karsa dan karya itu kemudian disusun sebagai pedoman yang berisi nilai-nilai yang mejadi panduan hidup (way of life): berpikir, bertindak dan berperilaku dalam hampir semua bidang kehidupan.

2. Media massa, cetak, elekronik (radio dan tv) dan multimedia-berbasis internet umumnya lebih dikenal umum sebagai penyampai atau pembawa (carrier) peristiwa atau acara seni budaya.

3. Di samping itu, sesungguhnya media masa juga pelaku budaya antara lain dengan bertindak sebagai penyelenggara kegiatan seni-budaya dan sekaligus menyiarkan kegiatan itu (content-provider).

4. Lebih dari itu, media massa karena pengaruh apa yang disiarkannya terhadap publik adalah trend setter (penentu arah) budaya, yang diterima, diikuti dan dikembangkan oleh publik, bahkan menjadi bagan dari hidup mereka.
5. Bahkan, di atas dari semuanya itu, media massa adalah budaya itu sendiri.

6. Content (informasi atau apa pun yang disiarkan) media massa adalah produk yang tidak bebas nilai dan kepentingan ( not value and interest free).

7. Content adalah produk yang sarat dengan muatan dan kepentingan ideologi, politik, eknomi, sosial dan budaya.

8. Siapa yang menentukan content:

  • a. pemilik media (visi dan misinya),
    b. pemasang iklan
    c. awak media massa (mulai dari pemimpin sampai stafnya) dalam mewujudkan visi dan misi pemilik.
    d. reaksi publik
    e. ideologi negara dan atau aturan sosial-budaya (tatakrama) sesuai kesepakatan masyarakat (setempat).

9. Sejumlah media massa, termasuk RRI telah melaksanakan tugasnya sebagai carrier, content provider dan trendsetter budaya sekaligus. Contohnya, RRI dan Kompas, aktif menyelenggarakan kegiatan seni budaya atas prakarsa (biaya dan bahkan sebagian pelakunya dari kalangan dalam) sendiri dan menyiarkanya.

10. Pelestarian dan pengembangan budaya hanya mungkin optimal jika ke lima pilar bekerjasama, yakni:

  • a. negara/pemerintah pusat/daerah yang memfasilitasi
    b. seniman-budayawan yang berdedikasi dalam berkreasi
    c. publik yang memberi apresiasi
    d. Dunia usaha yang membangun industri kreatif dan memberi donasi
    e. media massa yang memberikan publikasi.

11. Pelestarian bukan pengawetan, karena itu perlu dilakukan terus menerus:

  • a. regenerasi pelaku seni-budaya
    b. kreasi baru
    c. kompetisi

12. Keluhan atau keprihatinan atas maraknya penyiaran seni-budaya asing akibat kurang banyaknya siaran seni-budaya sendiri, tidak harus dialamatkan hanya kepada media masa, tetapi juga ke empat pilar lainya.

13. Indonesia perlu pemimpin yang peduli budaya, mulai dari pimpinan negara sampai pimpinan media massa.

14. Di era globalisasi, Indonesia harus aktif melestarikan dan mengembangkan seni budaya lokal dengan kearifan lokalnya (local wisdom), menjadi kumpulan kearifan nasional (national wisdom) untuk kemudian menjadi kontribusi kearifan global (global wisdom). Dan, untuk yang terakhir ini media massa memegang peranan penting.

*Wartawan sejak 1973, Dirut RRI sejak 2005.

Pelestarian Gamelan Bali Langka : Sebuah Model dari Selatan untuk Utara
Vaughan Hatch

Saat mempelajari gamelan dalam sebuah program beasiswa di Bali, Vaughan Hatch, seorang  ethnomusicologis menyadari bahwa banyak bentuk seni pertunjukkan Bali yang terancam punah atau telah punah sama sekali, khususnya beberapa gamelan orkestra yang kuno dan klasik tidak lagi dimainkan atau telah dileburkan. Pada tahun 2000, Vaughan memperoleh kesempatan untuk membeli dan merestorasi seperangkat gamelan pelegongan yang tidak digunakan lagi, mengumpulkan musisi Bali yang mempunyai kepedulian dan membentuk suatu konsep yaitu Mekar Bhuana, yang bertujuan untuk melestarikan gamelan klasik dan repertoar yang beragam  dari kepunahan. Selama lebih dari sebelas tahun, dia telah meneliti tentang gamelan semar pegulingan, pelegongan, bebarongan, dan tipe-tipe gamelan Bali yang langka lainnya.

Pada tahun 2002 dia bertemu dengan Putu Evie Suyadnyani, seorang penari legong dan penyanyi yang juga memiliki visi yang sama dalam menghidupkan kembali, merekonstrusi, merawat dan melestarikan gamelan klasik. Bersama-sama mereka mengkombinasikan aspek musik dan tari lalu membentuk Konservatorium Mekar Bhuana (www.balimusic.org) pada tahun 2004. Vaughan akan membicarakan motivasinya dalam melestarikan bentuk-bentuk seni pertunjukkan tradisional, visinya kedepan, proyek yang telah dan sedang digarapnya serta pengaruh yang mungkin diterima dari gaya dan teknik memainkan gamelan Bali Utara serta rencana-rencana pelestarian yang berkesinambungan.

Dia berharap agar ide-ide serta konsep-konsepnya dapat memberikan inspirasi baik pada perseorangan maupun kelompok untuk melestarikan bentuk-bentuk seni pertunjukkan Bali Utara yang langka. Separu dari presentasi Vaughan akan dialokasikan untuk mendemonstrasikan reportoar yang telah direkonstruksi, gaya permainan dan penyeteman oleh musisi semar pegulingan dari Mekar Bhuana.

Pada malam yang sama, gamelan semar pegulingan bernada tujuh Mekar Bhuana akan mempertunjukkan komposisi-komposisi tradisional dari beberapa macam gaya termasuk  gong cenik (semar pegulingan a la Bali Utara) dari Buleleng. Ini merupakan kesempatan yang langka bagi penonton untuk membandingkan gaya komposisi dan permaianan Bali Utara dan Selatan Anda dapat mendengarkan cuplikannya dengan mengunjungi www.balimusic.org/multimedia/recording.

Seni Gambar, Wayang dan Patung di Bali Utara (1870-1930)

Hedi I.R. Hinzler

Berdasar gambar wayang dari koleksi van der Tuuk (1870-1894), gambar W.O.J. Nieuwenkamp (1905-1930) dan patung kayu di Tropenmuseum Amsterdam (1885-1930).

Propopals:

- Membuat database di internet sebagai ‘kumpulan catatan’ (’collective memory’) of north Bali (fofo-foto zaman dulu);

- Buku: gambar dan diary W.O.J. Nieuwenkamp (1905/6, 1920/21, 1930)

- Pameran foto dari gambar wayang dan patung di koleksi di Belanda.

Seni Lukis Kaca Nagasepaha
Narasi Dongeng Suci dan Legitimasi Kekuasaan

Hardiman

Seni lukis kaca lahir dan tumbuh di lingkungan masyarakat tertentu. Di Indonesia, kelahiran seni rakyat ini dipengaruhi oleh dua sumber pengungkapan, yaitu Cina dan Arab. Kedua sumber pengungkapan tersebut berbaur dengan pengaruh Hindu (terutama tema wayang) dan pengaruh Islam (terutama tema kaligrafi Arab).

Seni lukis kaca di Nagasepaha Buleleng mempunyai sejarah dan perkembangannya sendiri. Proses kelahirannya relatif masih muda, yakni tahun 1927. Pelaku pertama seni lukis kaca tersebut adalah Jro Dalang Diah. Alat dan bahan untuk membuat lukisan kaca adalah tinta Cina, cat kayu, dan lembar kaca bening. Lukisan kaca di Nagasepaha Buleleng pada mulanya hanya bertema wayang. Berbagai fragmen adegan seperti Ramayana, Mahabarata, Sutasoma, Arjunawiwaha, dll hadir sebagai subject matter lukisan kaca. Rangkaian narasi dongeng suci ini adalah inti yang dikomunikasikan melalui lukisan kaca. Namun kini, selain tema wayang, muncul juga tema kehidupan sehari-hari, persoalan sosial, gejolak politik, dan ihwal media massa hadir dengan pendekatan komikal dan parodi.

Berdasarkan kecenderungan gaya, seni lukis kaca Nagasepaha dapat dibagi ke dalam tiga periode gaya. Pertama, Periode Awal (1927-1950-an) dengan kecenderungan estetik yang mengutamakan kehadiran fragem adegan wayang dengan latar belakang ruang kosong. Tak ada setting tempat atau setting waktu dalam periode ini. Adegan dalam lukisan periode awal ini menyerupai konsep pertunjukan wayang.

Kedua, Periode Setting Pemandangan (1950-an – 1992). Pada periode ini, setting latar depan atau latar belakang dibangun oleh lukisan pemandangan alam dengan pendekatan seni lukis naturalistik. Periode ini atas pengaruh pemesan yang meminta lukisan kaca dengan setting seperti lukisan Jelekong (Jawa Barat) atau Sukaraja (Jawa Tengah). Sepanjang lebih dari 40 tahun periode ini mendapat legitimasi dari kekuasan yang mengayomi praktik penciptaan seni lukis kaca.

Ketiga, Periode Setting Dekoratif (1992 – kini). Keterlibatan Jurusan Pendidikan Seni Rupa Undiksha dalam proses kreatif seni lukis kaca Nagasepaha melalui penelitian tindakan melahirkan corak baru. Setting Pemandangan — yang dianggap tidak memiliki kesatuan gaya dengan pokok wayang — melalui proses penelitian tindakan ini digantikan oleh setting dekoratif yang bersumber dari khasanah seni hias Bali Utara.

Namun demikian, periode Setting Dekoratif ini kehadirannya kini tergeser oleh gaya setting pemandangan. Penyebabnya, mudah diduga, adalah praktik dominasi kekuasaan yang hadir melalui program-program pembinaan yang datang dari penguasa. Praktik ini pada wujudnya hadir semacam legalitas yang turut membentuk selera artistik senimannya.

Seni lukis kaca, kini termasuk salah satu khasanah seni rupa Nusantara yang yang eksistensinya makin terpinggirkan oleh arus utama seni rupa modern. Seni lukis kaca Nagasepaha adalah salah satu dari sedikit seni lukis kaca yang masih hidup di Indonesia. Seni lukis kaca di Indonesia, kini selain Nagasepaha, hanya tersisa di Cirebon, Yogyakarta, Solo, dan Madura. Seni lukis kaca Nagasepaha jelas adalah aset budaya Indonesia. Ia (seni lukis kaca Nagasepaha) bukan lagi milik Buleleng, tetapi milik bangsa.

Sebagai aset, seni lukis kaca Nagasepaha, selayaknya memperoleh perlakuan yang secara menerus bisa tetap menghidupkan keberadaanhnya. Seni lukis kaca, maknanya tidak pernah berhenti sebagai benda seni rupa yang hanya menawarkan kualitas estetik. Tetapi, ia telah memproduksi makna-makna dongeng suci, marjinalisasi kelas-kelas kesenian,  dominasi kekuasaan, dan lain-lain. Pendeknya, di balik kebeningan lukisan kaca, tercermin wajah kita yang sesungguhnya

Bali 1928: Gamelan Gong Kebyar of Busungbiu, Belaluan dan Pangkung Musik Tertua Bali
Edward Herbst

Proyek yang sedang dikerjakan Edward Herbst di Bali melibatkan rekaman-rekaman yang dibuat oleh Odeon-Beka pada tahun 1928. Dia memulai proyek untuk pemulangan kembali yang terdiri dari penerbitan lima CD yang berisi semua gending yang dirilis oleh Odeon-Beka (104 trek) yang direstorasi hingga bisa didengar secara maksimal, bersama sebuah koleksi potongan-potongan film singkat yang diambil pada tahun 30an oleh Colin McPhee, Covarrubias, dan Rolf de Maré. CD#1, “Gamelan Gong Kebyar: Belaluan, Pangkung, Busungbiu,” akan dirilis awal Juni di New York dan segera setelah itu di Bali dalam bentuk DVD dan kaset. (penasihat proyek ini antara lain Madé Bandem, Wayan Dibia, dan Endo Suanda). Dibutuhkan waktu 8 tahun untuk menemukan dan memperoleh akses ke seluruh rekaman-rekaman 78rpm, yang telah disimpan dalam arsip-arsip di seluruh penjuru dunia.

Tujuan utama dari proyek ini adalah untuk menyediakan sumberdaya artistik yang penting ini bagi pendidik dan masyarakat Bali (serta masyarakat internasional. Hingga saat ini terdapat kesenjangan historis karena kurangnya bukti sejarah audio-visual, jadi penari dan musisi muda belajar tanpa melihat atau mendengar rekaman-rekaman ini ynah berisi bentuk-bentuk orisinil.  Penelian Herbst meliputi menyaksikan (pada laptop) dan mendengarkan (dimainkan dengan boombox) rekaman-rekaman tersebut bersama dengan generasi tertua musisi, penyanyi dan penari yang kini telah berusia sekitar 80 atau 90 tahun. Melalui kegiatan menyasikan dan mendengarkan ini (juga melibatkan tim yang terdiri dari orang-orang Bali seperti Ketut Kodi dan Ni Ketut Suryatini), serta mendiskusikan estetika orisinil, teknik, pandangan tentang dunia, kepribadian, dinamika sosial dan beberapa anekdot, sehingga memunculkan suatu sejarah artisitk/kultural. Pemahaman dan informasi ini memberikan sebuah pengertian terhadap eksperimen yang berani serta inovasi (istilah dan proses penciptaan) yang menciptakan bentuk-bentukk di abad ke 20 ini pada seniman-seniman Bali masa kini. Penelitian ini ditulis dalam catatan cakram digital yang besar dan juga akan dikompilasikan dalam sebuah buku saat proyek ini selesai tahun depan.

Edward Herbst akan menyajikan rekaman dan sebuah sinopsis dari temuan-temuan riset tersebut. Perspektif utama yang menghubungkan dengan Buleleng meliputi tenik-teknik musikal tertentu serta gaya-gaya yang digunakan oleh Busungbiu, mendahului Pangkung dan Belaluan, yang kemudian digunakan oleh Wayan Berathat untuk Jaya Semaranya.  Aspek menarik lainnya adalah pengaruh pelegongan pada kebyar Buleleng, demikian juga elaborasi gaya sekatian seperti oncangan dalam ketiga gaya regional (Buleleng, Tabanan dan Badung). Beberapa penelitian (Wayan Simpen) mengetengahkan bahwa kunci inovasi tari kebyar (igel jongkok) terdapat di Buleleng sebelum I Marya mengembangkannya di Selatan. Karya musikal yang menarik lainnya adalah Palawakya, yang menggabungkan nyanyian kakawin/mabasan dengan gong kebyar. Penelitian Herbst’s menghasilkan cerita-cerita pribadi  dari anak-anak musisi dan seniman tua tahun 1928 seperti Wayan Begeg dari Pangkung, Beratha, Putu Sumiasa dari Kedis, and musisi-musisi tua dari Busungbiu. Mereka menceritakan bagaimana Busungbiu (Wayan Patra dkk) and Belaluan (Madé Regog, Ida Boda) saling tukar-menukar gaya-gaya kebyar dan palégongan mereka.

Culture, Locality, Identity, Representation, Bali , Equitable Development
Yongjin Kim

Makalah ini memuat beberapa konsep penting bagi perkembangan pariwisata yang berkeadilan dalam ruang lingkup kabupaten di Bali. Secara spesifik, makalah ini merangkum konsep budaya, lokalitas, dan identitas. Dengan menitikberatkan pada tingkatan pemaparan yang berbeda dari konsep-konsep tersebut, dan dengan lebih menerapkan sudut pandang teleskopik daripada mozaik, makalah ini bertujuan menemukan suatu landasan untuk kesesuaian identitas kelompok dalam tingkatan yang berbeda. Pada saat yang sama, makalah ini juga terfokus pada hakikat pembangunan identitas kelompok dan hakikat penyeleksian perwakilan budaya.

Lebih jauh, makalah ini membantah bahwa kebudayaan Bali pada umumnya terpusat pada elemen-elemen dari Bali Selatan, dan bahwa makna istilah “Bali” telah diplesetkan. Akan tetapi, pengubahan persepsi hegemoni Bali selatan dengan Bali utara bukanlah suatu pemecahan masalah yang relevan. Daripada mengesampingkan begitu saja keberadaan Bali selatan, yang memang sudah didasari oleh faktor-faktor demografi dan politik-ekonomi, makalah ini sebaliknya mengetengahkan solusi proses konsensus jangka panjang terhadap keunikan-keunikan lokal Bali utara. Solusi ini sejalan dengan prinsip demokrasi partisipatori dan kesadaran terhadap otonomi daerah yang tidak seharusnya disamakan dengan provinsialisme, ketidakpraktisan, ketidakteraturan dan kurang kordinasi.dengan memberdayakan agen-agen budaya local dalam daerah tingkat II, dapat diharapkan terciptanya elemen-elemen baru dalam prewakilan budaya dalam pariwisata serta dalam mewujudkan pembangunan kepariwisataan yang merata.

Gamelan Gong Gede
Pandai Mustika

Desa Pakraman Tejakula sebelum munculnya Gamelan Gong Kebyar yang diperkirakan muncul pada tahun 1914, memiliki barungan gamelan Gong Gede dan barungan Gamelan Kembang Kirang. Munculnya Gamelan Gong Kebyar di Bali Utara khususnya di Desa Tejakula, Gamelan Gong Gede dirubah (dilebur) menjadi Gamelan Gong Kebyar dengan sebutan nama masih tetap Gong Gede. Sedangkan barungan Gamelan Kembang Kirang dilebur menjadi barungan Gamelan Angklung yang sekarang sering disebut Gong Cerik. Untuk membuktikan hal ini dulu dapat dilihat secara fisik beberapa instrumen Gangse Jongkok khususnya pelawah masih diketemukan, namun sekarang sudah tidak ada. Sedangkan instrumen kendang yang besar dua pasang dengan ukuran panjang 75-78 Cm, garis tengah muka (mua) 38 Cm, dan cang tempat kanan-kiri 33 Cm. Instrumen kendang masih dipakai dalam barungan gong tersebut sampai sekarang. Khususnya barungan Gamelan Kembang Kirang bukti-bukti masih ada beberapa resonator atau pelawah meukir dan memakai perada. Pembuktian ini masih berada di Pura Desa (Bale Agung) Tejakula.

Desa Pakraman Tejakula kembali mempunyai Gamelan Gong gede mulai tahun 2000. Proses kembalinya bertahap dengan catatan tiap tahun membeli beberapa instrumen. Tahun 2008 akan melaksanakan upacara Dangsil barungan gamelan Gong Gede tersebut menjadi komplit satu barung. Sumber dana yang dipakai dari dana Pemerintah Propinsi dan swadaya masyarakat. Kemunculannya relatif muda. Seni karawitan Bali khususnya barungan gamelan Gong Gede di Desa Pakraman Tejakula, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng yang berkembang karena adanya faktor pengembangannya (kaderisasi) dan suatu kepastian yang dikembangkan adalah wujud konkrit karawitan serta fungsi dan makna apa yang dimiliki oleh barungan Gong Gede tersebut.

Dukungan moralitas, yang amat dalam telah diproyeksikan oleh para seniman, pemimpin dan masyarakat Desa Pakraman Tejakula, Kabupaten Buleleng. Secara periodik telah menjamur perkembangan, serta mendapat tempat yang sangat halus dan luhur terutama jika dihubungkan pada tingkat kemampuan berkomunikasi masyarakat terhadap karawitan itu sendiri.

Barungan Gamelan Gong Gede di Desa Pakraman Tejakula adalah salah satu orkestrasi tradisional Bali yang memiliki karakter keras, agung dan higmat, yang merupakan warisan budaya yang luhur oleh para pendahulunya dan sampai sekarang masih ditekuni serta dipertahankan. Eksistensi Gamelan Gong Gede tidak dapat dipisahkan dari aspek sosio cultural masyarakat Desa Tejakula dimana tidak dapat dipisahkan dari aktivitas keagamaan.

Gamelan Gong Gede mempunyai orkestra atau instrumen yang paling banyak serta instrumennya besar-besar, memakai laras pelog lima nada. Ciri lain yang sangat menonjol untuk menentukan identitas, pada umumnya dimainkan dengan teknik pukulan kekenyongan. Secara fisik gamelan Gong Gede didominasi oleh instrumen berbilah seperti gangsa jongkok dan yang bermoncol. Gamelan Gong Gede dapat dikatagorikan sebagai kesenian tradisi, yang merupakan warisan budaya luhur dalam menunjang kegiatan upacara keagamaan khususnya upacara dewa yadnya, dengan menampilkan jenis-jenis tabuh lelambatan klasik pegongan seperti tabuh-tabuh gegilakan, tabuh pisan, tabuh telu, tabuh pat, tabuh nem, dan tabuh kutus dimana sangat terikat oleh uger-uger tabuh. Tabuh-tabuh tersebut dimainkan dengan tempo yang relatif pelan. Gamelan Gong Gede di Desa Pakraman Tejakula menunjukkan syarat dengan fungsi dan makna.

Fungsi Gamelan Gong Gede dapat disajikan untuk mengiringi upacara Dewa Yadnya dan dapat menyajikan tabuh-tabuh lelambatan klasik, mengiringi tarian Rejang, Baris Taruna, dan beberapa tari baris wali yang lainnya seperti Baris Blongsong, Baris Bedil,Baris Perisi. Yang lebih penting lagi Gamelan Gong Gede menyajikan tabuh-tabuh sekatian untuk mengiringi upakara (bakti) puncak upacara. Makna yang dimaksud meliputi makna filosofis seperti makna relegius, makna keselamatan dan makna pelestarian.

Dampak globalisasi terhadap perkembangan arsitektur Bali
Putu Rumawan Salain

Secara sederhana arsitektur dapat dipahami sebagaimana manusia dengan budayanya menghadapi tantangan dari luar dan dalam dirinya melalui sebuah ruang sebagai wadah kegiatannya. Ketika tantangan yang lahir dari dalam maupun luar dirinya berubah,berkembang,bahkan mungkin berkurang hingga menghilang; arsitektur sebagai wadah ikut berubah.Diplomasi problematik antara berbagai permasalahan dari dalam dan luar dirinya diupayakan melalui teknologi. Sadar atau tidak ketika teknologi menjadi pembenar, kemudahan, ketergantungan sebagaian besar manusia, kemudian menjelmalah menjadi produksi oleh kaum kapitalis maupun industrialis.

Pasar adalah jawaban yang tepat untuk menyebarkan produk industri yang tidak mungkin dihentikan kecuali bangkrut. Globalisasi adalah narasi agung yang mengajak semua umat manusia untuk melihat kenyataan bahwa dunia tanpa batas yang akhirnya bermuara pada pasar tanpa batas. Apapun dia , apakah pasar bebas, ataukah negara dan bangsa tanpa batas, yang pasti adalah akan terjadi pertukaran diantaranya yang cepat atau lambat akan mempengaruhi “merubah”sendi-sendi kehidupan dan penghidupan manusia dimana saja, termasuk kebudayaannya.Perubahan sosial masyarakat akan tercermin pada sosok arsitekturnya. Morfologi perubahannya menggambarkan nuansa kehidupan sosial sekaligus kearifannya pada problematik lingkungan.

Arsitektur di Bali bukan hanya berkembang oleh karena adanya Globalisasi, namun secara evolusi berkembang oleh karena pemikiran-pemikiran efisiensi, efektifitas, praktis, higienis, dan lain sebagainya; sebagai pemikiran yang mengedepankan fungsi dari pada bentuk dan makna.Arsitektur Bali kini merupakan presentasi  perjalalanan ruang dan waktu yang ditransformasikan  kedalam berbagai fungsi-fungsi baru. Gejala menghilangnya aset arsitektur tradisional secara perlahan namun pasti terjadi, khususnya di pusat-pusat kota dan juga di kawasan-kawasan pariwisata. Namun disisi lainnya globalisasi juga berdampak pada penguatan nilai-nilai tradisi sehingga dibeberapa tempat dijumpai arsitektur yang bernuansa Bali atau campuran. Akan tetapi satu hal yang pasti dan sedang berlangsung adalah bahwa ternyata Arsitektur Bali kini sedang menjadi tren dunia. Dengan demikian dampak globalisasi dari sisi perkembangan arsitektur di Bali dapat menjadikannya, melemah, memperkuat, saling bercampur, bahkan juga menjadi warna dan milik dunia.

Adat dan budaya Bali Utara: Tinjauan atas geguritan Jayaprana
IDG Windhu Sancaya

Cerita Jayaprana yang digubah dalam bentuk geguritan (Geguritan Jayaprana) dapat diidentifikasikan sebagai karya sastra yang jelas-jelas ditulis dengan latar belakang lokasi, peristiwa, tokoh, adat dan budaya Buleleng (Bali Utara). Dilihat dari penggunaan bahasa, adat istiadat dan budaya, Geguritan Jayaprana merupakan tipikal karya sastra Bali Utara. Berdasarkan kolofon yang terdapat dalam salah satu teks naskah Geguritan Jayaprana, karya sastra ini ditulis pada tahun Sri Puspa Jiwa Kawarna,1564 Saka, atau 1642 Masehi (lihat Ginarsa, 1978).

Cerita Jayaprana boleh jadi merupakan karya sastra asli Bali yang paling popular di luar Bali. Kisah Jayaprana (-Layonsari) ini oleh Prof. Dr. R. Prijono (mantan Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan RI,1956-1960) disejajarkan dengan “Empat Duka Cerita Percintaan” lainnya, seperti Liang Shan Bo dan Chu Yindai, Romeo dan Juliet, Tristan dan Izeut, serta Pranacitra dan Rara Mendut” (Prijono, 1956).

Di Bali sendiri Kisah Jayaprana-Layonsari ini juga sangat popular. Kisah ini dahulu (tahun 1970-an) sering dimainkan sebagai lakon drama gong oleh Sekaa Drama Gong Abianbase, Gianyar, dan juga sebagai lakon dalam seni pertunjukan Arja oleh Sekaa Arja Candra Metu RRI Denpasar. Dalam decade belakangan ini kisah Jayaprana juga digubah dalam bentuk lagu pop Bali (music modern). Bahkan sebuah stasiun televisi swasta (dewata Tv) di Bali dalam minggu-minggu ini sedang menayangkan satu acara geguntangan dalam bentuk semi film yang mengambil kisah tentang Jayaprana ini. Kami sendiri (penulis) pada tahun 1989 pernah mentransformasikan kisah ini dalam bentuk Opera (Opera Jayaprana) yang dipertunjukkan di Fakultas Sastra Unud oleh para mahasiswa Jurusan Sastra Daerah. Dalam opera ini kami menampilkan tokoh Jayaprana melakukan protes terhadap kesemena-menaan raja kepada rakyat.

Satu hal yang menarik adalah bahwa kisah Jayaprana ini justru “ditabukan” untuk dimainkan/dipentaskan sebagai lakon oleh kelompok-kelompok kesenian di Bali Utara sendiri! Kisah Jayaprana ini dipandang sebagai lakon yang “keramat” yang dapat berakibat “tidak baik” bila dipentaskan. Sejauh yang kami tahu, belum pernah ada kelompok kesenian di Bali Utara yang “berani” memainkan lakon Jayaprana ini. Sebuah kelompok drama gong yang terkenal tahun 1970-an, yaitu Drama Gong Puspa Anom, Banyuning, justru menjadikan cerita Sampek Engtay sebagai lakon andalannya. Demikian juga kelompok kesenian Dwi Mekar yang ada sekarang, mereka meneruskan tradisi yang telah dirintis dengan sukses oleh Sekaa Drama Gong Puspa Anom, Banyuning.

Kisah Jayaprana bagi kebanyakan orang, sampai saat ini, masih dianggap sebagai suatu misteri. Apakah kisah ini sebuah peristiwa yang betul-betul pernah terjadi dalam kenyataan, atau hanya sebuah cerita saja. (WS).

Petani Perempuan di Bali Utara: Pemberdayaan dan Identitas Budaya Dalam Kelompoknya
Nazrina Zuryani

Para petani, termasuk istri-istri mereka yang hidup di dataran pantai timur-laut Bali telah menjadi sorotan dua proyek pembangunan irigasi-agrikultural sejak 1995 hingga 2006 yaitu North Bali Groundwater Irrigation and Water Supply project (NBGIWSP) atau Proyek Irigasi Air Tanah dan Persediaan Air Bali Utara serta Sustainable Development of Irrigated Agriculture in Buleleng and Karang Asem (SDIABKA) atau Proyek Pembangunan Irigasi Pertanian Berkelanjutan di Buleleng dan Karangasem. Kedua proyek ini didanai oleh Uni Eropa dan oleh Pemerintah Indonesia (Proyek Air Tanah, di bawah Kementrian Kependudukan dan Infrastruktur KIMPRASWIL). Dua tahun setelah penyelesaian proyek terakhir, tiba saatnya untuk proses evaluasi pertama terhadap hasilnya.

Makalah ini berdasar kepada desertasi Ph.D Australia (2007) dan beberapa kali wawancara mendalam untuk mengevaluasi keadaan setelah proyek yang meliputi 1) keadaan kaum perempuan sebagai petani; 2) pemberdayaan yang dicapai oleh perempuan-perempuan lokal dengan bantuan dari organisasi perempuan; 3) identitas budaya mereka dalam kelompok. Dalam hubungannya dengan tiga poin tersebut, saya akan mencoba mendemonstrasikan bahwa A) keadaan petani perempuan masih dihadapkan kepada tantangan ekonomi yang berkelanjutan walaupun masih terdapat konsekuensi sosial dan ekologi yang tidak terduga; B) tidak ada kemajuan signifikan dalam bidang pemberdayaan perempuan terhadap kelambanan proyek dalam menanggulangi kesenjangan gender dalam budaya dan lembaga sosialnya sendiri; C) sebagai hasilnya, terdapat sorotan pada identitas sosial mereka.

Singkatnya, untuk menyukseskan proyek-proyek pembangunan, parameter sosial dan budaya perlu dijadikan acuan disamping factor-faktor ekonomi.