
Konperensi
Konperensi 4 hari dengan dwi bahasa (Indonesia dan Inggris) yang diselenggarakan oleh Undiksha (sebagai tuan rumah) akan mengetengahkan pembicara utama serta pemakalah   berkenaan dengan berbagai thema dan topik. Sesi konperensi ini akan memusatkan perhatiannya kepada penemuan (kembali) warisan budaya Buleleng serta bagian Bali yang lainnya, serta bertujuan untuk menjelaskan, mendiskusikan serta mengangkat ke permukaan identitas seni budaya yang ada dan untuk merangsang adanya revitalisasi atau pemberdayaan seni-seni pertunjukan khususnya.
Dua pembicara utama akan mengetengahkan kebudayaan Bali Utara dilihat dari pandangan kalangan orang dalam dan orang luar bali Utara. I Gede Dharna, budayawan, pengarang dan penulis naskah drama dari Sukasada, akan berbicara mengenai Kebudayaan lokal Buleleng serta ciri-ciri khasnya. Prof Dr I Wayan Dibia (ISI, GEOKS Singapadu) akan berbicara mengeai Makna dari Kebudayaan Bali Utara bagi Budaya Bali secara keseluruhan, yang akan menjawab pertanyaan bagaimana cara memberdayakan kembali Gong Kebyar Bali Utara.
Sesi-sesi:
Sesi mengenai Musik dan Tari akan dipusatkan  kepada sejumlah topik yang berhubungan dengan musik dan tari gaya Buleleng, termasukl asal muasal dari   terbentuknya seni “paduan suara†sebagai yang ditunjukkan oleh latar belakang budaya dan sejarah dari Genjek. Sesi ini juga akan melibatkan partisipasi dari sejumlah seniman tua.
Sebagai pengantar mengenai para seniman ini, silahkan anda membuka halaman Buleleng .
Pemakalah : Prof. Dr I Made Bandem (Kaja Kelod), Prof. Dr. Pande Made Sukerta SKar (gong kebyar), Éric Vandal (gong kebyar), A.A. Bulan Trisna Djelantik (legong Karangasem/Singaraja), Henrice Vonck (gender wayang Tejakula), Vaughan Hatch (karawitan gong kuna dan tari ) serta Paddy Sandino (gong kebyar) akan ikut meramaikan presentasi dalam konperensi ini.
Sementara itu Arsitektur Bali Utara dengan ciri khasnya akan dibahas pada Seski khusus dengan presentasi dari  Popo Danes (arsitek).
Koleksi tentang seni Bali Utara dan peninggalannya, seperti yang telah tersimpan di berbagai universitas dan museum di Belanda akan menjadi salah satu topik hangat yang tidak terlewatkan untuk dibahas juga. Perpustakaan Universitas Leiden yang memiliki koleksi Van de Tuuk terdiri dari tidak hanya lontar-lontar dan transliterasi teks di atas kertas, tetapi juga termasuk di antaranya adalah koleksi lukisan dan gambar tradisional yang dibuat antara 1880 sampai dengan 1994, menampilkan buah karya seniman I Ketut Gede. Dari seniman yang sama akan dapat juga dijumpai kjarya-karyanya pada koleksi C.M. Pleyte dan W.O.J. Nieuwenkamp. Van der Tuuk juga memiliki koleksi tokoh-tokoh wayang yang kini berada di Museum Ethnograpik di Leiden. Pada Kamus Kawi – Bali – Belanda (1894-1906) ia membuat referensi mengenai tokoh-tokoh wayang khusus yang ada di Buleleng, yang sangat populer ada masanya. C.M. Pleyte sendiri terlibat dalam penyelenggaraan World Exhibition yang diselenggarakan di Paris tahun 1900. Ia memesan patung-patung kayu, yang sekarang tersimpan di Tropenmuseum, Amsterdam, yang menggambarkan para dewa dan tokoh-tokoh protagonis dari epik Mahabharata dan Ramayana untuk keperluan pameran itu. Patung-patung itu dipesan dari seorang pematung golongan Ida Bagus di Sawan. Khusus mengenai hal ini akan dipresentasikan oleh : Hedi Hinzler
Suatu diskusi akan diselenggarakan berdasarkan presentasi mengenai Kesusastraan dan Lontar-lontar Bali Utara yang disimpan di Gedong Kirtya, yang didirikan oleh I Gusti Putu Djelantik dan Residen Caron di tahun 1928. Penyaji I Dewa Gede Catra, Hedi Hinzler dan Nyoman Rema (Pidpid) akan menggarisbawahi pemaknaan keberadaan seorang tokoh budayawan I Gusti Bagus Sugriwa bagi keberlangsungan kehidupan Bahasa Bali. Sugi Lanus dan beberapa yang lainnya akan mendiskusikan tentang oeuvre sastra dari almarhum I Ketut Suwidja, yang pernah menjadi Kepala Gedong Kirtya. Dr. Hinzler juga akan menyajikan lontar-lontar Bali Utara yang berisikan notasi musik Bali yang di salin atau ditulis pada tahun 1926 yang disimpan di Gedong Kirtya.
Fokus pada sesi yang lain adalah mengenai Kebudayaan dan Kepariwisataan, yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat dan pedesaan Bali. Sebagai suatu hasil kemasyarakatan, industri pariwisata memerlukan informasi kebudayaan yang terus diperbaharui serta handal sifatnya  untuk menggalang adanya daya tarik bagi upaya peningkatan arus wisatawan. Tujuan untuk melakukan kompilasi, pembuatan dokumen, menyebarkan dan membuat informasi kebudayaan dalam kaitan dengan kepariwisataan dirajut dalam satu ruang lingkup khusus dalam konperensi ini. Penyaji : Prof. Dr Sri Hastanto (professor ISI Surakarta, mantan Dirjen Kebudayaan Depatrtemen Kebudayaan dan Pariwisata, Jakarta ).
Dari perspektif lainnya, tidak bisa diabaikan peranan media, baik elektronik dan cetak dalam menginformasikan dan mengkomunikasikan Kekhasan Budaya ini kepada publik sehingga masyarakat menjadi well-infomed dan bisa mengambil keuntungan dari perbedaan itu guna dipersembahkan bagi kesemarakan Bhineka Seni - Budaya Nusanatara yang adhi luhung ini.. Dalam satu presentasi Direktur Utama RRI – Radio Republik Indonesia Parni Hadi, yang juga pernah menjadi pimpinan media cetak dan Kantor Berita, akan memberikan sumbangan pemikirannya mengenai hal ini.