Desak Made Parponi

Nama : Desak Made Parponi
Tempat/Tgl Lahir : Desa Bungkulan, Kecamatan Sawan, Buleleng / tahun 1943

RIWAYAT KESENIMANAN / PENGALAMAN
Parponi yang lahir di Dusun Satriya desa Bungkulan ini  merupakan seorang penari Arja yang sangat kondang pada masanya.  Ia yang lahir tahun 1943, menamatkan Sekolah Rakyat tahun 1957. Setahun kemudian  dia sudah bergabung dalam satu Sekaa Arja bernama  Bintang Tujuh, setelah berlatih  dan mendalami gerak tari dan nyanyi sebagai seorang penari Arja. Sejak itu  dirinya disibukkan oleh kegiatan ini, baik sebagai penari dan  ikut melatih kader-kader penari Arja di kawasan Buleleng  seperti desa Kl;oincing.
Tahun 1960 ada kelompok Arja gabungan  dari penari-penari Arja di Buleleng, di mana dia ikut bergabung di dalamnya . Sekaa ini kerap kali mementaskan lakon Jayaprana, di mana Parponi sendiri  menjadi  Jayaprana. Kesenian Arja  di Buleleng, bisa jadi memiliki ciri khas, baik dari lakonnya ataupun improvisasi gerak tari dan nyanyinya.  Walau dia menikah tahun 1963, dia terus ikut bergabung dengan sekaa itu sampai dengan tahun 1966.

Pada tahun 1998, ada sebuah Yayasan lain yang membentuk sekaa Arja. Di  sekaa ini dia diminta untuk menjadi pelatih. Dia melatih  seniman-seniman pemula itu di rumahnya sendiri, dan kebanyakan dari mereka  kos di rumah Parponi. Maksudnya agar dengan  tekun  bisa berlatih siang malam sehingga ketrampilan Parponi di  bidanc seni tari Arja ini bisa diwariskan secara cepat.  Pahir getir sebagai penari dan pelatih seni tari arja sangat dirasakannya. Di kala  dia pentas, banyak orang yang mengaguminya, karena  peran dengan tari dan  nyanyi yang  dibawakannya   sungguh memukau  penonton. Pada saat itu dia merasakan sangat puas lahir bathin. Juga ketika anak asuhnya bisa memainkan peran  yang disandangnya dengan bagus, dia menjadi sangat puas dan terkadang terharu merasakan  keberhasilan dirinya mendidik  anak asuhnya. Namun sebaliknya, bilamana  penonton kurang puas, hal itu menjadi pikiran, sampai dibawa pulang dan tidak bisa tidur.  Rasa sedih dan mangkel juga terjadi saat pihak Yayasan tidak memberinya  imbalan  untuk keringat jerih payahnya melatih anak-anak untuk menjadi penari Arja. Karena, bagaimanapun  dana seperti itu  dia sangat perlukan untuk kehidupan sehari-hari, baik untuk menghidupi anak-anaknya, maupun dirinya sendiri, karena dia  sehari-hari hanya mendapatkan nafkah sebagai seorang penjual canang. Bisa dibayangkan betapa minimnya keadaan seniman yang satu ini.
Sejak tahun 2007  hingga kini, dia bergabung dengan sebuah Sekaa Arja negak yang dipimpin oleh Nyoman Sukadana  dengan penabuh  dari desa Kloncing atau dari desa Sudaji.

Seniman Arja seusia Parponi  sudah langka sekarang, bahkan sudah jarang. Parponi,  yang kini sudah berusia 66 tahun , masih kerap ikut  menyanyi di pesantian-pesantian maupun ikut siaran di RRI Singaraja, karena bagaimanapoun dengan menyanyikan lagu-lagu arja itu, dia merasakan kepuasan serta merasa  mendekatkan diri  kepada Yang Maha Kuasa.-